Jika kapasitas pikiran bawah sadar lebih besar dari pikiran sadar,
bisa dibilang, kunci sukses hidup kita adalah ketika kita tak lagi hanya
mengandalkan pikiran (sadar) dalam menjalani kehidupan, melainkan juga
mengandalkan perasaan hati (bawah sadar). Kalau pikiran sadar
berhubungan dengan kinerja otak, berhubungan dengan kinerja apakah
perasaan bawah sadar itu?
Pada zaman dahulu, para pakar Sumerian Assyrian menganggap manusia
berpikir dan berperasaan dengan menggunakan organ hati (liver). Namun
hal ini dibantah oleh Aristoteles yang beranggapan bahwa untuk berpikir
dan berperasaan, manusia menggunakan jantung (heart). Kedua pendapat ini
membawa pengikut masing-masing, sehingga menggunakan istilah liver
berkembang ke daerah Selatan, terutama Asia, dan heart berkembang ke
Utara, khususnya di Eropa.
Yang terjadi kemudian, penduduk belahan bumi selatan mengungkapkan
perasaannya (“hatiku sangat senang”, “sungguh menyesakkan hati”) sambil
menyentuh daerah hati atau liver, sementara penduduk belahan bumi utara
menyentuh daerah jantung (“I love you with all my heart”, “My heart was
broke”).
Namun perkembangannya kemudian semakin rancun, terutama di negera
tetangga kita, Indonesia. Heart yang dimaksudkan sebagai jantung
diterjemahkan menjadi “hati”. Maka ketiak mengatakan “kau selalu ada di
dalam hatiku” (You always in my heart), yang selalu kita raba adalah
daerah jantung (di dada), bukan hati (di ulu hati).
Oleh karena itu kerancuan masalah pemahaman tentang hati dan jantung
ini maka hingga sekarang pun orang menganggap hati sebagai kualitas
subjektif. Saat seseorang mengatakan “hatiku hancur”, itu artinya
perasaan atau emosinyalah yang hancur atau sedih. Pula, kalimat “hatiku
sedang berbunga-bunga” menunjuk pada perasaan seseorang yang sedang
bergembira.
Padahal sebenarnya, hati itu objektif, berupa benda. Seseorang yang
memikirkan pemutusan hubungan sepihak yang baru dilakukan kekasihnya,
maka hatinya akan merasakan sedih. Seseorang yang memikirkan kenaikan
gajinya ternyata melebihi karyawan yang lain, maka hatinya akan
merasakan kegembiraan.
Pertanyaanya, betulkah (organ) yang merasakan itu? Betulkah (organ) hati yang berhubungan dengan otak? Jawabnya : tidak.
Jantunglah yang merasakan apa yang otak pikirkan. Ketika kita
berpikir takut, jantunglah yang berdebar, bukan hati. Ketika pikiran
Anda kacau atau stress (marah, cemas, dan sebagainya), maka pola irama
jantung Anda menjadi tidak normal, bahkan bisa berakibat negative pada
kesehatan fisik Anda.
Para ahli menyebutkan, jantung mempunyai system komunikasi yang lebih
luas dan jauh dengan otak daripada yang dilakukan organ tubuh yang
lain. Jadi, sebenarnya jantung dan otaklah yang komunikasinya lebih
intens.
Ilmu pengetahuan berhasil membuktikan bahwa kualitas elektornik
magnetic jantuk 5000 kali lebih kuat daripada otak. Dengan kata lain,
kalu positive thinking memakai 1 watt, maka positive feeling memakai
tenaga 5000 watt. Karena itulah mengapa positive feeling lebih powerful
disbanding positive thingking. Positive feeling menggunakan vibrasi yang
tinggi, bersifat cinta, damai, penuh kasih, sehingga vibrasinya pun
lebih dekat dengan vibrasi Tuhan.
Jantung, kata para ilmuwan, juga mempunyai “otak” sendiri yang
membuat ia bekerja secara otomatis tanpa perlu menunggu perintah dari
otak kepala kita. Detak jantung dan pekerjaan memompa darah, misalnya.
Dengan berbagai kenyataan seperti itu, mulai sekarang tak ada
salahnya kalau kita mulai “berpikir” dengan jantung. Mulai sekarang
serahkan kepemimpinan dalam berperasaan pada jantung. Biarkan dia yang
berpikir, menghayati, dan merasakan. Oleh karena dengan demikian,
pencapaian keinginan kita niscaya akan lebih powerful.
Jadi mulai hari ini, Kalau Anda menemukan kata “hati”, itu berarti kita menunjuk ke “jantung”.
Rangkuman :
Positive Thinking : Anda akan mendapat apa yang paling sering anda pikirkan.
Positive Feeling : Anda akan mendapat apa yang paling sering anda rasakan,
ketika anda memikirkannya.
Sumber : The Power of Positive Feeling, by : Malik Dzain